Membakar sampah di halaman atau lahan kosong sering dianggap sebagai cara cepat membersihkan lingkungan. Padahal, asapnya membawa partikel halus dan berbagai zat berbahaya yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Dampaknya tidak selalu berhenti ketika bau asap menghilang.
Bahaya jangka panjang menghirup asap bakar sampah bagi kesehatan perlu dipahami karena paparan berulang dapat berkontribusi pada penyakit kronis. Besarnya risiko bergantung pada jenis sampah, kadar polutan, lama dan frekuensi paparan, serta kondisi kesehatan seseorang.
Apa yang Terkandung dalam Asap Pembakaran Sampah?
Pembakaran terbuka biasanya berlangsung pada suhu yang tidak terkontrol sehingga pembakaran tidak sempurna. Campuran daun, sisa makanan, plastik, kain, dan kemasan dapat menghasilkan polutan yang berbeda-beda. Sampah yang terlihat sudah habis terbakar tidak berarti prosesnya aman.
- Partikel halus PM2.5: dapat mencapai bagian terdalam paru-paru dan memicu peradangan serta efek pada sistem peredaran darah.
- Karbon monoksida: mengganggu kemampuan darah mengangkut oksigen, terutama berbahaya pada kadar tinggi atau di tempat dengan ventilasi buruk.
- Senyawa organik volatil dan hidrokarbon aromatik polisiklik: beberapa dapat mengiritasi jaringan atau memiliki sifat karsinogenik.
- Dioksin dan furan: dapat terbentuk dalam kondisi tertentu, terutama saat pembakaran tidak sempurna melibatkan bahan yang mengandung klorin.
- Logam berbahaya: dapat ikut tersebar apabila sampah mengandung baterai, komponen elektronik, pigmen, atau bahan tercemar logam.
Komposisi asap tidak bisa dinilai hanya dari warna atau baunya. Asap tipis maupun pembakaran sampah organik tetap dapat menghasilkan partikel yang merugikan kesehatan.
Dampak Jangka Panjang pada Paru-Paru
1. Peradangan dan Penurunan Fungsi Pernapasan
Paparan polusi partikel secara berulang dapat mempertahankan peradangan di saluran napas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkontribusi pada penurunan fungsi paru, keluhan batuk berkepanjangan, dan meningkatnya risiko penyakit paru obstruktif kronis. Risiko dapat bertambah bila seseorang juga merokok atau sering terpapar debu dan asap di tempat kerja.
Keluhan awal kadang dianggap ringan, misalnya mudah terengah saat beraktivitas atau batuk yang sering kambuh. Namun, gejala tersebut layak diperiksa, terutama bila paparan asap berlangsung terus-menerus.
2. Asma Lebih Sulit Terkendali
Pada penderita asma, asap pembakaran dapat memicu penyempitan saluran napas, mengi, dan sesak. Paparan berulang dapat meningkatkan kekambuhan dan kebutuhan pengobatan. Anak-anak lebih rentan karena paru-parunya masih berkembang dan jumlah udara yang mereka hirup relatif lebih besar dibandingkan berat badannya.
Risiko Penyakit Jantung dan Stroke
Dampak asap tidak terbatas pada paru-paru. Paparan partikel halus dapat memicu peradangan sistemik, mengganggu fungsi pembuluh darah, dan memengaruhi proses pembekuan darah. Bukti mengenai polusi udara menunjukkan bahwa paparan jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.
Asap pembakaran sampah merupakan salah satu sumber polusi tersebut. Lansia serta orang dengan penyakit jantung, hipertensi, atau diabetes perlu lebih berhati-hati. Paparan berat juga dapat memperburuk kondisi yang sudah ada, bukan hanya menambah risiko di kemudian hari.
Apakah Asap Bakar Sampah Bisa Menyebabkan Kanker?
Asap pembakaran dapat mengandung zat karsinogenik, yaitu zat yang dapat menyebabkan kanker. Paparan jangka panjang terhadap polusi udara luar dan partikulat diketahui meningkatkan risiko kanker paru. Karena pembakaran sampah menghasilkan campuran polutan, kebiasaan ini sebaiknya tidak dianggap aman meskipun dilakukan di ruang terbuka.
Namun, terpapar asap tidak berarti seseorang pasti akan terkena kanker. Risiko individual dipengaruhi dosis paparan, durasi, kebiasaan merokok, dan faktor lain. Risiko kanker akibat pembakaran sampah pada seseorang tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan bau asap atau jumlah kejadian paparan.
Dampak pada Kehamilan dan Tumbuh Kembang Anak
Paparan polusi udara selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Hubungan ini tidak berarti setiap ibu hamil yang menghirup asap akan mengalami komplikasi, tetapi menjadi alasan penting untuk mengurangi paparan.
Pada anak, paparan berkepanjangan dapat mengganggu perkembangan fungsi paru dan memperburuk keluhan pernapasan. Sebagian polutan hasil pembakaran juga dapat mengendap di tanah, debu, dan bahan pangan. Artinya, pencemaran dari pembakaran sampah tidak hanya berdampak melalui udara yang langsung dihirup.
Cara Mengurangi Paparan dengan Tepat
Langkah paling efektif adalah menghentikan sumber pembakaran, bukan sekadar menutupi bau asap. Jika pembakaran terjadi di sekitar rumah, lakukan upaya berikut:
- Jauhkan diri dari sumber asap. Tunda olahraga dan aktivitas luar ruangan saat asap pekat, terutama untuk anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis.
- Kurangi masuknya asap ke rumah. Tutup jendela dan pintu yang menghadap sumber asap untuk sementara. Buka kembali saat udara luar membaik dan hindari kondisi dalam rumah yang terlalu panas.
- Gunakan penyaring udara bila tersedia. Pembersih udara dengan filter HEPA yang sesuai ukuran ruangan dapat mengurangi partikel, tetapi tidak menghilangkan seluruh gas berbahaya. Hindari perangkat penghasil ozon.
- Pilih perlindungan pernapasan yang sesuai. Respirator N95 atau setara yang terpasang rapat dapat mengurangi partikel terhirup, tetapi tidak melindungi dari karbon monoksida dan semua gas. Masker bukan pengganti menjauh dari asap.
- Perbaiki pengelolaan sampah. Pilah sampah, komposkan bahan organik yang sesuai, manfaatkan layanan pengangkutan atau bank sampah, dan salurkan baterai serta limbah elektronik ke fasilitas yang menerima.
Bila pembakaran terus berulang, bicarakan dengan pengurus lingkungan atau laporkan kepada instansi setempat yang menangani lingkungan hidup. Hindari membakar sampah sendiri sebagai solusi penumpukan.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?
Periksakan diri bila batuk menetap, mengi berulang, atau kemampuan beraktivitas menurun. Segera cari pertolongan medis jika muncul sesak berat, nyeri dada, kebingungan, pingsan, atau bibir kebiruan. Penderita asma sebaiknya mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan dokter.
Melindungi kesehatan jangka panjang dimulai dengan mengurangi paparan sehari-hari. Tidak membakar sampah berarti melindungi diri, keluarga, dan tetangga dari sumber pencemaran yang sebenarnya dapat dicegah.