Berangkat sekolah melewati jalan padat, menunggu angkutan di tepi jalan, atau bermain dekat area parkir membuat anak mudah terpapar polusi kendaraan. Bagi keluarga di kota besar, menghindari paparan sepenuhnya memang sulit. Namun, orang tua dapat mengurangi risikonya melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Memahami cara melindungi anak dari ISPA akibat polusi kendaraan di kota besar perlu dimulai dengan membedakan infeksi dan iritasi. Keduanya bisa menimbulkan keluhan pernapasan, tetapi penyebab serta penanganannya tidak selalu sama.
Hubungan Polusi Kendaraan dan ISPA pada Anak
Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA disebabkan oleh mikroorganisme, terutama virus, dan sebagian oleh bakteri. Polusi kendaraan bukan penyebab infeksi secara langsung, tetapi dapat mengiritasi saluran napas, mengganggu pertahanan alaminya, serta meningkatkan kerentanan terhadap infeksi atau memperberat gejalanya.
Emisi kendaraan mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, serta gas seperti nitrogen dioksida. Anak lebih rentan karena paru-paru dan sistem pertahanan tubuhnya masih berkembang, sementara jumlah udara yang dihirup relatif terhadap berat badannya lebih besar dibandingkan orang dewasa. Anak dengan asma atau penyakit paru lainnya memerlukan perhatian tambahan.
1. Periksa Kualitas Udara sebelum Beraktivitas
Biasakan memeriksa informasi kualitas udara dari sumber tepercaya, seperti layanan resmi pemerintah atau pemantauan udara setempat. Perhatikan lokasi stasiun, waktu pembaruan, dan panduan kesehatan yang menyertai indeksnya. Angka dari aplikasi berbeda belum tentu dapat dibandingkan langsung karena skala yang digunakan bisa berbeda.
- Saat udara masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, kurangi aktivitas berat anak di luar ruangan.
- Jika kualitas udara semakin buruk, pindahkan kegiatan ke ruang dalam dengan udara yang lebih bersih.
- Jangan menganggap pagi hari selalu lebih aman; kondisi udara dipengaruhi lalu lintas, cuaca, dan lokasi.
Anak tetap membutuhkan gerak dan permainan. Tujuannya adalah menyesuaikan waktu, tempat, serta intensitas kegiatan, bukan melarang seluruh aktivitas luar ruangan.
2. Pilih Rute dan Tempat Menunggu yang Lebih Aman
Jika memungkinkan, pilih jalan dengan lalu lintas lebih lengang dan trotoar yang tidak langsung berdampingan dengan arus kendaraan. Hindari berhenti lama di dekat knalpot, persimpangan padat, pintu keluar parkir, atau kendaraan yang mesinnya menyala saat berhenti.
Saat menunggu jemputan, ajak anak berdiri lebih jauh dari tepi jalan. Di dalam mobil, tutup jendela ketika melewati kemacetan dan gunakan mode sirkulasi ulang sementara untuk mengurangi masuknya udara luar yang tercemar. Rawat filter kabin sesuai petunjuk kendaraan. Jangan menyalakan mesin di garasi tertutup, meskipun pintunya terbuka sebagian.
3. Gunakan Masker dengan Memperhatikan Usia dan Kecocokan
Masker dapat menjadi perlindungan tambahan ketika paparan partikel sulit dihindari. Respirator penyaring partikel, seperti N95 atau standar setara, dapat bekerja lebih baik daripada masker kain apabila ukuran dan kerapatannya sesuai. Namun, banyak produk dewasa tidak pas pada wajah anak sehingga perlindungannya berkurang.
Jangan memasangkan masker pada anak di bawah usia dua tahun atau anak yang tidak mampu melepasnya sendiri. Untuk anak yang lebih besar, pastikan ia dapat bernapas nyaman dan gunakan dengan pengawasan. Bila anak memiliki kondisi medis yang memengaruhi pernapasan, konsultasikan pilihan masker dengan dokter.
Masker tidak menggantikan upaya menjauhi sumber polusi dan tidak melindungi dari seluruh komponen gas buang. Jika anak sesak atau tidak nyaman, pindahkan dahulu ke tempat berudara lebih bersih.
4. Jadikan Rumah Tempat dengan Udara Lebih Bersih
Perlindungan tidak berhenti setelah anak masuk rumah. Asap rokok, vape, pembakaran sampah, dupa, serta kegiatan memasak tanpa pembuangan udara yang baik dapat menambah polutan dalam ruangan.
- Terapkan rumah dan kendaraan bebas rokok serta vape, termasuk bagi tamu.
- Tutup jendela yang menghadap jalan saat lalu lintas padat atau udara luar buruk. Buka ventilasi ketika kondisi udara membaik dan aman.
- Bersihkan debu menggunakan kain lembap agar tidak mudah beterbangan.
- Jika tersedia anggaran, gunakan pembersih udara berfilter HEPA dengan kapasitas sesuai luas ruangan, lalu rawat filternya.
- Hindari alat yang sengaja menghasilkan ozon karena dapat mengiritasi paru-paru.
Pembersih udara bukan keharusan bagi semua keluarga. Menghilangkan sumber asap di dalam rumah dan mengatur ventilasi tetap merupakan langkah penting.
5. Kurangi Penularan Infeksi dan Dukung Kesehatan Anak
Karena ISPA merupakan infeksi, pengurangan polusi perlu dibarengi pencegahan penularan. Ajarkan anak mencuci tangan dengan sabun, menutup batuk atau bersin menggunakan siku bagian dalam, dan tidak berbagi botol minum. Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit, bila memungkinkan.
Lengkapi imunisasi sesuai usia dan rekomendasi tenaga kesehatan, termasuk vaksin yang membantu mencegah penyakit pernapasan tertentu. Pastikan anak cukup tidur, memperoleh makanan bergizi seimbang, dan minum sesuai kebutuhannya. Tidak ada suplemen atau minuman khusus yang terbukti dapat menetralkan polusi yang sudah terhirup.
6. Kenali Gejala dan Waktu Mencari Pertolongan
Batuk, pilek, demam, dan nyeri tenggorokan dapat muncul pada ISPA. Namun, batuk setelah terpapar asap juga bisa disebabkan iritasi atau asma. Jangan menentukan penyebabnya hanya berdasarkan riwayat terkena polusi.
Tanda bahaya yang memerlukan pertolongan segera
- Anak sulit bernapas, bernapas sangat cepat, atau bagian bawah dada tertarik ke dalam saat menarik napas.
- Bibir atau wajah tampak kebiruan.
- Anak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau mengalami kejang.
- Anak tidak mampu minum atau menyusu, atau buang air kecil jauh berkurang.
Bayi berusia di bawah tiga bulan yang mengalami demam perlu segera diperiksa. Hubungi tenaga kesehatan jika gejala memburuk, demam menetap, atau anak memiliki penyakit penyerta. Jangan memberikan antibiotik tanpa pemeriksaan dan resep dokter, karena antibiotik tidak mengobati infeksi virus.
Bangun Perlindungan Bersama Sekolah
Ajak sekolah memantau kualitas udara, menyesuaikan olahraga luar ruangan, dan menerapkan area jemput tanpa kendaraan bermesin menyala saat menunggu. Perlindungan anak akan lebih efektif bila dilakukan bersama. Dengan mengurangi paparan, menjaga udara rumah, mencegah penularan, dan mengenali tanda bahaya, keluarga dapat membantu anak tetap aktif sekaligus lebih aman di tengah kehidupan kota.